BAB III
Kesimpulan & Saran
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kerusuhan suporter adalah peristiwa-peristiwa yang tidak terkendali berupa perkelahian massal, pengrusakan/penghancuran, pembakaran, peledakan, terhadap fasilitas olahraga maupun fasilitas umum yang terdapat di dalam maupun di luar lingkungan stadion. Kerusuhan suporter sering terjadi disebabkan karena sikap –sikap suporter sendiri yatu kurang dewasa dalam berfikir, dan fanatisme yang berlebihan. Selain itu, sebab lainnya adalah kurangnya pengaamanan, dan keadaan stadion yang kurang memadai. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari kerusuhan adalah memburuknya citra persepakbolaan Indonesia, jatuhnya korban, penundaan pertandingan, sanksi bagi tim yang suporternya bermasalah, terganggunya keselamatan pemain, dan rusaknya keadaan stadion.
Saran
Untuk mengurangi kerusuhan suporter di Indonesia di masa mendatang, saran yang bisa saya sampaikan adalah :
Bagi suporter:
belajar untuk lebih jernih berfikir agar perbuatan yang dilakukan tidak merugikan banyak orang.
mengurangi sikap fanatisme kepada tim yang didukung karena fanatisme yang berlebihan tidak baik.
berlatih menahan diri akan hal yang berbeda dengan pendapat sendiri
Bagi panitia pelaksana:
memperketat pengamanan dalam setiap pertandingan seperti memperbanyak satuan pengamanan di lokasi.
memperbaiki stadion-stadion yang sudah tidak baik susunan bangunannya seperti membuat pagar penonton yang tinggi dan kokoh.
membuat sanksi-sanksi bagi suporter yang bermasalah.
menyaring wasi-wasit yang disiplin agar dapat memimpin pertandingan dengan adil.
Selasa, 10 Juni 2008
cara mengurangi kejadian kerusuhan suporter
F. Cara Mengurangi Kejadian Kerusuhan Suporter
Kenapa keributan antarsuporter begitu marak, perkelahian antarpemain jadi trendi, bahkan menimpuki pemain yang kita dukung pun merupakan merebak? Jangan bilang karena kita dasarnya tak tahu aturan. Penjelasan itu tak benar sama sekali.
Budaya adalah titik tolak banyak hal. Secara lebih spesifik, kita di sini bicara soal norma dan nilai, dua hal yang menjadi dasar pembentukan kode moral sebuah budaya, sistem-sistem simbol di mana perilaku diberi label " baik", "buruk", "benar", atau "salah". Dengan begitu, satu perilaku hanya disebut sebagai penyimpangan (deviance) atau normal jika kita mengetahui siapa pelakunya dan dalam konteks sosial atau budaya apakah dia bertindak.
Secara sosiologis, perilaku normal adalah perilaku yang mengonformasi aturan dan norma kelompok di mana satu perilaku terjadi. Di sisi lain, penyimpangan (deviant behavior) adalah perilaku yang gagal melakukan konformasi terhadap aturan dan norma kelompok (Durkheim, 1960). Karena kode moral sangat beraneka di antara satu kelompok dengan kelompok lain, kita mesti memahami kode moral kelompok asal pelaku satu perilaku. Pun begitu jika kita ingin mencari solusi tepat yang dapat menghentikan perilaku tersebut tidak terjadi lagi. Tanpa memahami kode moral yang menjadi konteks sosial dan budaya pelaku satu tindakan penyimpangan, upaya mencari sosial dapat dianggap tidak mungkin berhasil.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menghentikan perilaku menyimpang atau deviant behavior ini. Satu yang paling populer adalah mekanisme kontrol sosial, yang terdiri atas bagian: alat kontrol internal dan alat kontrol eksternal.
Dalam kontrol internal, hal pertama yang mesti ada adalah proses sosialisasi terhadap norma dan nilai, yang selanjutnya merupakan sosialisasi terhadap kode moral. Selanjutnya, sebagai akibat dari proses sosialisasi itu, kode moral satu kelompok mesti terinternalisasi, menjadi satu bagian dari kehidupan emosional dan kognitif individu sehingga jika ia melakukan satu deviance, ia akan mengalami berbagai konflik emosi seperti rasa bersalah, perasaan tidak nyaman, ketegangan, kegelisahan, hingga satu gejala yang disebut sebagai self-depreciation.
Dalam kontrol eksternal, satu elemen yang penting adalah sanctions. Sanctions bisa positif dan negatif. Dalam pengejawantahannya, sanctions ini kerap disebut punishment (hukuman) jika negatif dan reward (imbalan) jika positif—ini kerap diaplikasikan dalam perilaku organisasi atau manajemen sumber daya manusia. Artinya, pemegang otoritas (dalam konsep Max Weber) memang kerap memegang peran sentral dalam eksternal kontrol terhadap deviant behavior, yang di dalamnya termasuk tindakan kriminal.
Masalah muncul di sini. Dalam menganalisis aksi-aksi kerusuhan suporter dalam dunia sepakbola Indonesia, suara yang kerap keluar selalu bernada pesimistis dan penuh rasa putus asa: "Ah, susah. Orang Indonesia norak." Psikologi orang kalah (psychology of losers), satu hal yang dideskripsikan Azyumardi Azra dalam artikel opininya di Kompas hari ini (4/9), pun mendekam dalam diri kita. Seolah-olah masalah yang menjangkiti sepakbola Indonesia bukan sesuatu yang dapat diatasi. Selain itu, sikap lain yang muncul adalah mentalitas deterministik. Artinya kacau atau tidaknya suporter kita bergantung pada kesadaran tiap individu dalam kerumunan suporter itu sendiri! Ini jelas satu proposisi yang absurd karena kesadaran individu dalam kerumunan jelas tidak akan bisa berfungsi. Dalam satu kerumunan (crowd) individualitas bisa larut. Yang tertinggal hanyalah psikologi, logika, kode moral, dan perilaku kerumunan. Jadi jelas bahwa gagasan menunggu kesadaran bisa mulai disimpan rapi di tong sampah.
Satu hal penting yang mesti dicermati dari masyarakat yang menjadi konteks terjadinya satu kerusuhan adalah logika sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Nilai dan norma apa yang berlaku di dalamnya? Kode moral apa yang berlaku di dalamnya? Berbuat rusuh dan kacau dalam pertandingan sepakbola merupakan satu kesalahan jangan-jangan hanya merupakan kode moral kita, bukan mereka. Untuk tahu bagaimana kode moral mereka, akan sangat membantu jika kita mengetahui apa kode moral opinion leader atau patron-patron mereka. Ya, dalam konteks kerusuhan sepakbola Indonesia, kita mesti mengetahui bagaimana kode moral para gubernur, bupati, manajer tim, pemodal, hingga pentolan suporter mereka.
Para suporter, dalam logika strukturasi ala Anthony Giddens, adalah agensi-agensi yang hidup dalam struktur. Dalam mind set Micehele Foucault, kita bisa menganggap mereka sebagai agensi yang hidup dalam habitus. Untuk memahami motives dan drives mereka, jelas kita mesti memahami habitus mereka.
Ambivalensi nilai bukan hal aneh bagi masyarakat Indonesia , yang tingkat pendidikannya masih terbilang amat rendah secara kuantitas dan terbelakang secara kualitas. Apa yang dianggap baik di sekolah, bisa dianggap menggelikan di masyarakat. Apa yang dianggap satu keharusan dalam undang-undang lalu lintas bisa dianggap sebagai kekonyolan di jalan raya. Lihat saja berapa banyak pengendara motor yang berhenti di garis putih atau tetap bertahan di jalurnya yang macet dan tidak pindah ke jalur yang berlawanan arah. Satu contoh lain adalah logika berpikir "budaya asik" yang muncul di Indonesia--sebagai implementasi dan dampak relativisme moral yang amat dikhawatirkan Paus Benediktus--sejak 1970-an. Jika diamati secara serius, sosok-sosok yang proses sosialisasi amat maksimal--sehingga bisa disebut gaul--amat permisif dan terbuka pada deviasi-deviasi perilaku. Mereka kerap menjadi agen-agen--dalam logika Giddens--yang mempengaruhi struktur untuk menerima deviant behavior. Kenapa? Karena habitus mereka mensyaratkan demikian. Radikalisme bukanlah satu hal yang sangat "gaul" dan dapat mengganggu penerimaan kelompok terhadap diri mereka. Bahkan prinsip dan identias nyata dapat mereka anggap tidak perlu. Dalam budaya "gaul", satu hal yang sangat penting adalah karakter "dapat diterima semua kelompok yang memiliki kode moral berbeda-beda". Untuk dapat diterima di mana-mana seperti itu, identitas kode moral dan prinsip menjadi sesuatu yang bisa ditabukan. Agensi-agensi seperti ini masuk ke dalam kelompok dan larut dalam dalam kode moral kelompok tersebut. Jika kemudian mereka pindah kelompok, kode moral mereka pun akan berubah. Itu yang terjadi pada banyak individu dalam kelompok suporter Indonesia. Situasi akan semakin parah jika satu kelompok suporter dihuni oleh mayoritas individu yang nilai dan norma koralitasnya belum terbentuk secara baku, misalnya teenager (13-19 tahun). Namun, itu pun tidak berarti bahwa yang gaek tidak dapat terpengaruh. Yang berusia 30-an atau 40-an pun masih banyak yang tidak (atau belum) memiliki kode moral yang baku sehingga permisif terhadap fenomena apa pun.
Ini adalah buah kegagalan pendidikan sebagai proses sosialisasi terhadap nilai. Orientasi pendidikan yang bergeser menjadi "institusi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja" telah menciptakan individu-individu kosong tanpa nilai. Dalam logika sistem pendidikan seperti ini, pragmatisme John Dewey sangat kental membayangi. Abstraksi kehidupan dan internalisasi fenomena menjadi sesuatu yang dianggap merepotkan. Individu dipacu untuk mengejar kemampuan praktis, betapa pun sederhananya kemampuan itu.
Solusi dari semua masalah di atas adalah proses resosialisasi, satu konsep yang mendasari pembentukan institusi-institusi sosial yang penting di masyarakat dalam menanggulangi deviant behavior: penjara! Ya, resosialisasi adalah elemen terpenting dalam institusi yang disebut penjara—meskipun ini dikritik habis-habisan oleh Foucault. Namun, resosialisasi tidak hanya bisa dilakukan di penjara. Media dan ruang publik (konsep public sphere Jurgen Habermas) dapat menjadi sarana resosialisasi yang ampuh. Berbagai strategi komunikasi publik dapat didayagunakan untuk melakukan proses resosialisasi ini, yang diharapkan dapat menggerus nilai-nila i negatif, lalu menggantinya dengan nilai dan norma positif. Ini yang dilakukan di Inggris pada era Maggie Thatcher.
Saat upaya di atas dilakukan, langkah eksternal kontrol juga mesti tetap berjalan. Peran polisi sebagai alat hukum dan PSSI sebagai regulator mesti berjalan secara poten, tanpa terpengaruh sedikit pun oleh budaya "asik" khas generasi 70-an, 80-an, hingga 90-an dan saat ini. Itu penting dilakukan sebagai shock therapy sekaligus seleksi natural terhadap perilaku. Tanpa punishment dan reward yang strict dan stringent--dua karakter yang perlu dimiliki pemegang otoritas--, deviant behavior akan tetap ada. Apalagi kalau pemegang otoritasnya justru yang melakukan deviance!
Kalau sudah begitu, pilihannya hanya dua: jadi masyarakat "asik" yang superpermisif atau masyarakat deterministik yang ultraputus-asa.
Kenapa keributan antarsuporter begitu marak, perkelahian antarpemain jadi trendi, bahkan menimpuki pemain yang kita dukung pun merupakan merebak? Jangan bilang karena kita dasarnya tak tahu aturan. Penjelasan itu tak benar sama sekali.
Budaya adalah titik tolak banyak hal. Secara lebih spesifik, kita di sini bicara soal norma dan nilai, dua hal yang menjadi dasar pembentukan kode moral sebuah budaya, sistem-sistem simbol di mana perilaku diberi label " baik", "buruk", "benar", atau "salah". Dengan begitu, satu perilaku hanya disebut sebagai penyimpangan (deviance) atau normal jika kita mengetahui siapa pelakunya dan dalam konteks sosial atau budaya apakah dia bertindak.
Secara sosiologis, perilaku normal adalah perilaku yang mengonformasi aturan dan norma kelompok di mana satu perilaku terjadi. Di sisi lain, penyimpangan (deviant behavior) adalah perilaku yang gagal melakukan konformasi terhadap aturan dan norma kelompok (Durkheim, 1960). Karena kode moral sangat beraneka di antara satu kelompok dengan kelompok lain, kita mesti memahami kode moral kelompok asal pelaku satu perilaku. Pun begitu jika kita ingin mencari solusi tepat yang dapat menghentikan perilaku tersebut tidak terjadi lagi. Tanpa memahami kode moral yang menjadi konteks sosial dan budaya pelaku satu tindakan penyimpangan, upaya mencari sosial dapat dianggap tidak mungkin berhasil.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menghentikan perilaku menyimpang atau deviant behavior ini. Satu yang paling populer adalah mekanisme kontrol sosial, yang terdiri atas bagian: alat kontrol internal dan alat kontrol eksternal.
Dalam kontrol internal, hal pertama yang mesti ada adalah proses sosialisasi terhadap norma dan nilai, yang selanjutnya merupakan sosialisasi terhadap kode moral. Selanjutnya, sebagai akibat dari proses sosialisasi itu, kode moral satu kelompok mesti terinternalisasi, menjadi satu bagian dari kehidupan emosional dan kognitif individu sehingga jika ia melakukan satu deviance, ia akan mengalami berbagai konflik emosi seperti rasa bersalah, perasaan tidak nyaman, ketegangan, kegelisahan, hingga satu gejala yang disebut sebagai self-depreciation.
Dalam kontrol eksternal, satu elemen yang penting adalah sanctions. Sanctions bisa positif dan negatif. Dalam pengejawantahannya, sanctions ini kerap disebut punishment (hukuman) jika negatif dan reward (imbalan) jika positif—ini kerap diaplikasikan dalam perilaku organisasi atau manajemen sumber daya manusia. Artinya, pemegang otoritas (dalam konsep Max Weber) memang kerap memegang peran sentral dalam eksternal kontrol terhadap deviant behavior, yang di dalamnya termasuk tindakan kriminal.
Masalah muncul di sini. Dalam menganalisis aksi-aksi kerusuhan suporter dalam dunia sepakbola Indonesia, suara yang kerap keluar selalu bernada pesimistis dan penuh rasa putus asa: "Ah, susah. Orang Indonesia norak." Psikologi orang kalah (psychology of losers), satu hal yang dideskripsikan Azyumardi Azra dalam artikel opininya di Kompas hari ini (4/9), pun mendekam dalam diri kita. Seolah-olah masalah yang menjangkiti sepakbola Indonesia bukan sesuatu yang dapat diatasi. Selain itu, sikap lain yang muncul adalah mentalitas deterministik. Artinya kacau atau tidaknya suporter kita bergantung pada kesadaran tiap individu dalam kerumunan suporter itu sendiri! Ini jelas satu proposisi yang absurd karena kesadaran individu dalam kerumunan jelas tidak akan bisa berfungsi. Dalam satu kerumunan (crowd) individualitas bisa larut. Yang tertinggal hanyalah psikologi, logika, kode moral, dan perilaku kerumunan. Jadi jelas bahwa gagasan menunggu kesadaran bisa mulai disimpan rapi di tong sampah.
Satu hal penting yang mesti dicermati dari masyarakat yang menjadi konteks terjadinya satu kerusuhan adalah logika sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Nilai dan norma apa yang berlaku di dalamnya? Kode moral apa yang berlaku di dalamnya? Berbuat rusuh dan kacau dalam pertandingan sepakbola merupakan satu kesalahan jangan-jangan hanya merupakan kode moral kita, bukan mereka. Untuk tahu bagaimana kode moral mereka, akan sangat membantu jika kita mengetahui apa kode moral opinion leader atau patron-patron mereka. Ya, dalam konteks kerusuhan sepakbola Indonesia, kita mesti mengetahui bagaimana kode moral para gubernur, bupati, manajer tim, pemodal, hingga pentolan suporter mereka.
Para suporter, dalam logika strukturasi ala Anthony Giddens, adalah agensi-agensi yang hidup dalam struktur. Dalam mind set Micehele Foucault, kita bisa menganggap mereka sebagai agensi yang hidup dalam habitus. Untuk memahami motives dan drives mereka, jelas kita mesti memahami habitus mereka.
Ambivalensi nilai bukan hal aneh bagi masyarakat Indonesia , yang tingkat pendidikannya masih terbilang amat rendah secara kuantitas dan terbelakang secara kualitas. Apa yang dianggap baik di sekolah, bisa dianggap menggelikan di masyarakat. Apa yang dianggap satu keharusan dalam undang-undang lalu lintas bisa dianggap sebagai kekonyolan di jalan raya. Lihat saja berapa banyak pengendara motor yang berhenti di garis putih atau tetap bertahan di jalurnya yang macet dan tidak pindah ke jalur yang berlawanan arah. Satu contoh lain adalah logika berpikir "budaya asik" yang muncul di Indonesia--sebagai implementasi dan dampak relativisme moral yang amat dikhawatirkan Paus Benediktus--sejak 1970-an. Jika diamati secara serius, sosok-sosok yang proses sosialisasi amat maksimal--sehingga bisa disebut gaul--amat permisif dan terbuka pada deviasi-deviasi perilaku. Mereka kerap menjadi agen-agen--dalam logika Giddens--yang mempengaruhi struktur untuk menerima deviant behavior. Kenapa? Karena habitus mereka mensyaratkan demikian. Radikalisme bukanlah satu hal yang sangat "gaul" dan dapat mengganggu penerimaan kelompok terhadap diri mereka. Bahkan prinsip dan identias nyata dapat mereka anggap tidak perlu. Dalam budaya "gaul", satu hal yang sangat penting adalah karakter "dapat diterima semua kelompok yang memiliki kode moral berbeda-beda". Untuk dapat diterima di mana-mana seperti itu, identitas kode moral dan prinsip menjadi sesuatu yang bisa ditabukan. Agensi-agensi seperti ini masuk ke dalam kelompok dan larut dalam dalam kode moral kelompok tersebut. Jika kemudian mereka pindah kelompok, kode moral mereka pun akan berubah. Itu yang terjadi pada banyak individu dalam kelompok suporter Indonesia. Situasi akan semakin parah jika satu kelompok suporter dihuni oleh mayoritas individu yang nilai dan norma koralitasnya belum terbentuk secara baku, misalnya teenager (13-19 tahun). Namun, itu pun tidak berarti bahwa yang gaek tidak dapat terpengaruh. Yang berusia 30-an atau 40-an pun masih banyak yang tidak (atau belum) memiliki kode moral yang baku sehingga permisif terhadap fenomena apa pun.
Ini adalah buah kegagalan pendidikan sebagai proses sosialisasi terhadap nilai. Orientasi pendidikan yang bergeser menjadi "institusi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja" telah menciptakan individu-individu kosong tanpa nilai. Dalam logika sistem pendidikan seperti ini, pragmatisme John Dewey sangat kental membayangi. Abstraksi kehidupan dan internalisasi fenomena menjadi sesuatu yang dianggap merepotkan. Individu dipacu untuk mengejar kemampuan praktis, betapa pun sederhananya kemampuan itu.
Solusi dari semua masalah di atas adalah proses resosialisasi, satu konsep yang mendasari pembentukan institusi-institusi sosial yang penting di masyarakat dalam menanggulangi deviant behavior: penjara! Ya, resosialisasi adalah elemen terpenting dalam institusi yang disebut penjara—meskipun ini dikritik habis-habisan oleh Foucault. Namun, resosialisasi tidak hanya bisa dilakukan di penjara. Media dan ruang publik (konsep public sphere Jurgen Habermas) dapat menjadi sarana resosialisasi yang ampuh. Berbagai strategi komunikasi publik dapat didayagunakan untuk melakukan proses resosialisasi ini, yang diharapkan dapat menggerus nilai-nila i negatif, lalu menggantinya dengan nilai dan norma positif. Ini yang dilakukan di Inggris pada era Maggie Thatcher.
Saat upaya di atas dilakukan, langkah eksternal kontrol juga mesti tetap berjalan. Peran polisi sebagai alat hukum dan PSSI sebagai regulator mesti berjalan secara poten, tanpa terpengaruh sedikit pun oleh budaya "asik" khas generasi 70-an, 80-an, hingga 90-an dan saat ini. Itu penting dilakukan sebagai shock therapy sekaligus seleksi natural terhadap perilaku. Tanpa punishment dan reward yang strict dan stringent--dua karakter yang perlu dimiliki pemegang otoritas--, deviant behavior akan tetap ada. Apalagi kalau pemegang otoritasnya justru yang melakukan deviance!
Kalau sudah begitu, pilihannya hanya dua: jadi masyarakat "asik" yang superpermisif atau masyarakat deterministik yang ultraputus-asa.
dampak kerusuhan suporter
E. Dampak Kerusuhan Suporter
Kerusuhan suporter yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan dampak-dampak negatif seperti:
jatuhnya banyak korban.
Suatu kerusuhan suporter tentu akan berakibat fatal. Tidak jarang bagi setiap kerusuhan yang memakan korban jiwa. Tidak hanya satu atau dua korban jiwa bahkan puluhan orang pun dapat menjadi korban jiwa. Dan baru akhir-akhir ini kerusuhan antara suporter Persija-Persipura yang mengakibatkan tewasnya satu suporter Persija.
makin buruknya citra persepakbolaan Indonesia terutama nama PSSI.
Citra olahraga sepakbola di suatu negara menjadi kebanggaan bagi negara tersebut. Bagi rakyat Indonesia citra inilah yang diharapkan agar membaik. Namun kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Kita bisa lihat Timnas Indonesia tidak dapat menunjukan prestasi yang baik, ditambah dengan kerusuhan-kerusuhan suporter. Untuk itulah nama PSSI yang dituntut agar dapat memperbaiki citra sepakbola Indonesia. Jika tidak nama PSSI lah yang menjadi semakin buruk.
rusaknya keadaan stadion akibat kerusuhan.
Kerusuhan suporter memang akan mengakibatkan kerugian-kerugian diantaranya adalah rusaknya fasilitas-fasilitas stadion. Akibatnya terasa sekali pada pembina stadion yang harus memperbaiki keadaan stadion seperti semula agar layak untuk digunakan kembali.
keselamatan pemain di masing-masing tim terancam.
Tidak jarang bagi para suporter untuk rusuh di dalam lapangan bukan hanya di luar stadion. Kerusuhan yang berlangsung di dalam lapangan inilah yang lebih berbahaya. Selain menunda jalannya pertandingan, hal ini juga membahayakan pemain. Tidak jarang para suporter rusuh karna ada salah satu pemain yng mungkin membuat suporter jengkel degan kelakuannya sehingga suporter masuk ke dalam lapangan untuk menyerang pemain. Jika suda begini pemain pun akan rugi karna tidak dapatmengikuti pertandingan timnya.
pertandingan yang berlangsung menjadi tertunda.
Kerusuhan suporter yang berdampak besar sering sekali membuat panitia pelaksana kerepotan baik dengan keadaan stadion yang rusak ataupun wasit & pemain yang terkena sasaran kerusuhan. Untuk itu panitia pelaksana mengambil keputusan untuk menunda pertandingan.
klub yang didukung suporter bermasalah akan mendapat sanksi.
Setiap kerusuhan suporter pasti akan menimbulkan kerugian bagi suporter tersebut. Kerugian itu adalah sebuah hukuman. Bagi PSSI hukuman berupa sanksi yang sering diberikan bagi suporter bermasalah. Sanksi yang diberikan biasanya adalah dilarang menonton pertandingan timnya.
pemindahan pertandingan
Jika dalam event sepakbola pertandingan final adalah hal yang diutamakan. Mulai dari penetapan lapangan sampai wasit. Namun jika lapangan yang ditetapkan bermasalah seperti baru saja terjadi kerusuhan di lapangan tersebut. Lapangan tersebut harus disterilkan terlebih dahulu dan panitia pelaksana harus memindahkan pertandingan ke lapangan yang lainnya. Permasalahan ini sma seperti final LDI 2007 lalu. Pertandingan final yang harusnya dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno ini harus mengalami pemindahan pertandingan. Pertandingan antara PSMS Medan dan Sriwijaya FC ini akhirnya dilaksanakan di Stadion Jalak Harupat, Bandung dan mengalami pemunduran waktu pertandingan.
Kerusuhan suporter yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan dampak-dampak negatif seperti:
jatuhnya banyak korban.
Suatu kerusuhan suporter tentu akan berakibat fatal. Tidak jarang bagi setiap kerusuhan yang memakan korban jiwa. Tidak hanya satu atau dua korban jiwa bahkan puluhan orang pun dapat menjadi korban jiwa. Dan baru akhir-akhir ini kerusuhan antara suporter Persija-Persipura yang mengakibatkan tewasnya satu suporter Persija.
makin buruknya citra persepakbolaan Indonesia terutama nama PSSI.
Citra olahraga sepakbola di suatu negara menjadi kebanggaan bagi negara tersebut. Bagi rakyat Indonesia citra inilah yang diharapkan agar membaik. Namun kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Kita bisa lihat Timnas Indonesia tidak dapat menunjukan prestasi yang baik, ditambah dengan kerusuhan-kerusuhan suporter. Untuk itulah nama PSSI yang dituntut agar dapat memperbaiki citra sepakbola Indonesia. Jika tidak nama PSSI lah yang menjadi semakin buruk.
rusaknya keadaan stadion akibat kerusuhan.
Kerusuhan suporter memang akan mengakibatkan kerugian-kerugian diantaranya adalah rusaknya fasilitas-fasilitas stadion. Akibatnya terasa sekali pada pembina stadion yang harus memperbaiki keadaan stadion seperti semula agar layak untuk digunakan kembali.
keselamatan pemain di masing-masing tim terancam.
Tidak jarang bagi para suporter untuk rusuh di dalam lapangan bukan hanya di luar stadion. Kerusuhan yang berlangsung di dalam lapangan inilah yang lebih berbahaya. Selain menunda jalannya pertandingan, hal ini juga membahayakan pemain. Tidak jarang para suporter rusuh karna ada salah satu pemain yng mungkin membuat suporter jengkel degan kelakuannya sehingga suporter masuk ke dalam lapangan untuk menyerang pemain. Jika suda begini pemain pun akan rugi karna tidak dapatmengikuti pertandingan timnya.
pertandingan yang berlangsung menjadi tertunda.
Kerusuhan suporter yang berdampak besar sering sekali membuat panitia pelaksana kerepotan baik dengan keadaan stadion yang rusak ataupun wasit & pemain yang terkena sasaran kerusuhan. Untuk itu panitia pelaksana mengambil keputusan untuk menunda pertandingan.
klub yang didukung suporter bermasalah akan mendapat sanksi.
Setiap kerusuhan suporter pasti akan menimbulkan kerugian bagi suporter tersebut. Kerugian itu adalah sebuah hukuman. Bagi PSSI hukuman berupa sanksi yang sering diberikan bagi suporter bermasalah. Sanksi yang diberikan biasanya adalah dilarang menonton pertandingan timnya.
pemindahan pertandingan
Jika dalam event sepakbola pertandingan final adalah hal yang diutamakan. Mulai dari penetapan lapangan sampai wasit. Namun jika lapangan yang ditetapkan bermasalah seperti baru saja terjadi kerusuhan di lapangan tersebut. Lapangan tersebut harus disterilkan terlebih dahulu dan panitia pelaksana harus memindahkan pertandingan ke lapangan yang lainnya. Permasalahan ini sma seperti final LDI 2007 lalu. Pertandingan final yang harusnya dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno ini harus mengalami pemindahan pertandingan. Pertandingan antara PSMS Medan dan Sriwijaya FC ini akhirnya dilaksanakan di Stadion Jalak Harupat, Bandung dan mengalami pemunduran waktu pertandingan.
penyebab kerusuhan suporter
D. Penyebab Kerusuhan Suporter
Mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi kerusuhan suporter di daerah-daerah sekitar Indonesia, apakah penyebab kerusuhan suporter ini. Penyebab kerusuhan itu antara lain adalah:
1. kurang dewasanya para suporter dalam mengendalikan emosi
Kedewasaan dalam berfikir memang dibutuhkan semua orang, dalam hal ini para supoter. Kita bisa lihat, orang yang masuk menjadi kelompok suporter memiliki berbagai profesi mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan, dan lain-lain. Bagi karyawan dan orang yang sudah dewasa seharusnya mampu mengendalikan diri sehingga dapat menjadi suporter yang baik, jangan hanya dapat membuat kerusuhan. Selain itu mereka juga harus memberitahu pada yang lebih muda sehingga yang lebih muda pun tahu dan tidak membuat kerusuhan. Jika hal ini masih dipertahankan kerusuhan-kerusuhan lainnya mungkin akn terjadi.
2. fanatisme yang berlebihan dari suporter
Fanatisme satu kata yang menandakan kesukaan, kecintaan, kegemaran kepada sesuatu. Baik itu benda, warna, dan lain-lain. Kelompok suporter pasti memiliki fanatisme pada tim daerahnya. Namun seringkali fanatisme suporter itu terlalu berlebihan sehingga
mereka tidak bisa melihat tim mereka kalah. Dalam hal itu mereka mencari cara lain salah satunya membuat kerusuhan.
3. kurangnya pengamanan
Pengamanan dalam suatu pertandingan penting sekali peranannya dalam berlangsungnya jalan pertandingan. Pengamanan di suatu pertandingan juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kerusuhan suporter. Tapi pengamanan yang dikerahkan nampaknya kurang maksimal dapat dilihat masih banyak terjadi kerusuhan. Hal ini merupakan sektor yang harus diperbaiki agar dapat mengurangi tragedi-tragedi kerusuhan di Indonesia.
4. keadaan stadion yang kurang baik
Keadaan stadion mungkin sebab terkecil terjadi kerusuhan. Namun hal ini pun masih harus diperhatikan. Masih banyak stadion-stadion yang masih tidak mampu menghalau suporter, seperti pagar yang kurang tinggi dan kokoh. Jika hal ini dapat diperbaharui di stadion-stadion di Indonesia suporterpun dapat terhalau karena baiknya keadaan stadion.
Mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi kerusuhan suporter di daerah-daerah sekitar Indonesia, apakah penyebab kerusuhan suporter ini. Penyebab kerusuhan itu antara lain adalah:
1. kurang dewasanya para suporter dalam mengendalikan emosi
Kedewasaan dalam berfikir memang dibutuhkan semua orang, dalam hal ini para supoter. Kita bisa lihat, orang yang masuk menjadi kelompok suporter memiliki berbagai profesi mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan, dan lain-lain. Bagi karyawan dan orang yang sudah dewasa seharusnya mampu mengendalikan diri sehingga dapat menjadi suporter yang baik, jangan hanya dapat membuat kerusuhan. Selain itu mereka juga harus memberitahu pada yang lebih muda sehingga yang lebih muda pun tahu dan tidak membuat kerusuhan. Jika hal ini masih dipertahankan kerusuhan-kerusuhan lainnya mungkin akn terjadi.
2. fanatisme yang berlebihan dari suporter
Fanatisme satu kata yang menandakan kesukaan, kecintaan, kegemaran kepada sesuatu. Baik itu benda, warna, dan lain-lain. Kelompok suporter pasti memiliki fanatisme pada tim daerahnya. Namun seringkali fanatisme suporter itu terlalu berlebihan sehingga
mereka tidak bisa melihat tim mereka kalah. Dalam hal itu mereka mencari cara lain salah satunya membuat kerusuhan.
3. kurangnya pengamanan
Pengamanan dalam suatu pertandingan penting sekali peranannya dalam berlangsungnya jalan pertandingan. Pengamanan di suatu pertandingan juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kerusuhan suporter. Tapi pengamanan yang dikerahkan nampaknya kurang maksimal dapat dilihat masih banyak terjadi kerusuhan. Hal ini merupakan sektor yang harus diperbaiki agar dapat mengurangi tragedi-tragedi kerusuhan di Indonesia.
4. keadaan stadion yang kurang baik
Keadaan stadion mungkin sebab terkecil terjadi kerusuhan. Namun hal ini pun masih harus diperhatikan. Masih banyak stadion-stadion yang masih tidak mampu menghalau suporter, seperti pagar yang kurang tinggi dan kokoh. Jika hal ini dapat diperbaharui di stadion-stadion di Indonesia suporterpun dapat terhalau karena baiknya keadaan stadion.
peristiwa kerusuhan suporter
C. Peristiwa Kerusuhan Suporter
Banyak sekali kerusuhan-kerusuhan suporter yang terjadi di Indonesia contoh-contohnya adalah sebagai berikut:
Kerusuhan Lebak Bulus
Pertandingan lanjutan Liga Indonesia 2007 antara Persib Bandung dan Persija Jakarta di Stadion Lebak Bulus pada hari Kamis (16/8) 2007 diwarnai dengan aksi teror.Laga yang akhirnya dimenangi Persija dengan skor 1-0 diawali dengan perilaku tidak menyenangkan dari suporter Persija.Perilaku tak menyenangkan ini dimulai saat Persib menuju stadion, bus yang mengangkut mereka ditimpuki batu. Kaca bus hampir di semua sisi hancur. Beberapa ofisial dan pemain terluka akibat pecahan kaca. Saat hendak menuju ruang ganti stadion, Zaenal Arif dan Eka Ramdani terkena pukulan dari oknum suporter yang memakai atribut Jakmania. Kiper Persib, Tema Musadat, juga sempat tergeletak terkena lemparan benda keras pada pertengahan babak pertama. Kondisi sama dialami Lorenzo Cabanas saat hendak mengambil tendangan bebas pada babak kedua. Official Persib yang berada di bench tak luput dari lemparan botol mineral dari oknum suporter di atas tribun. "Dalam kondisi begini pemain kelas dunia mana pun tak akan konsentrasi bertanding," kata Yossi Irianto, manajer Persib. Pengurus The Jakmania menyayangkan sikap tak simpatik anggota dan simpatisannya. Menurut Ketua suporter Persija, Danang Ismartani, aksi brutal dipicu dendam teror yang diterima Bambang Pamungkas dkk. di Bandung pada putaran pertama. Karena kejadian ini Komisi disiplin BLI bersikap adil dan menghukum suporter Persija dengan hukuman dilarang menonton pertandingan yang dilakukan Persija.
Kerusuhan Persija
Pertandingan semifinal Liga Djarum 2007 di Gelora Utama Bung Karno, Rabu (06/02/2008) antara PSMS Medan dengan Persipura Jayapura,diakhiri dengan kerusuhan. Pertandingan yang dimenangi PSMS Medan lewat drama adu pinalti, membuat para suporter Persija yang ada di sana mengolok-olok suporter Persipura. Tidak senang atas perlakuan suporter Persija, suporter Persipura pun rusuh dengan suporter Persija. Kerusuhan ini mengakibatkan tewasnya salah satu suporter Persija. Berdasrkan kerusuhan ini Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga (Menegpora) Adiyaksa Dault, melarang semua klub lokal untuk menggunakan Stadion GBK dalam event apapun, Menegpora sudah tidak bisa mentolerir lagi aksi anarkis yang sering dilakukan pendukung klub, dan tewasnya seorang Jakmania semakin menguatkan keputusan tersebut.Menurut Menegpora, kerusuhan demi kerusuhan yang sering terjadi dalam sepak bola Nasional, sudah harus dihentikan, jika tidak Menegpora tak segan-segan menghentikan Liga Indonesia, bahkan untuk partai final musim ini yang hanya tinggal menunggu hari sekalipun. Jika GBK tertutup untuk klub lokal, maka partai final musim ini yang mempertemukan All Sumatera final antara Sriwijaya FC vs PSMS Medan dipastikan tidak akan di gelar di GBK, Menegpora menyarankan Stadion Gelora Jaka Baring Palembang menjadi alternatifnya.
pengertian kerusuhan suporter
B. Pengertian Kerusuhan Suporter
Kerusuhan merupakan suatu peristiwa yang tidak terkendali berupa perkelahian massal, pengrusakan/penghancuran, pembakaran, peledakan, terhadap fasilitas umum yang dilakukan oleh sekelompok orang di dalam atau di luar lingkungan tertentu.
Kerusuhan Suporter merupakan peristiwa-peristiwa yang tidak terkendali berupa perkelahian massal, pengrusakan/penghancuran, pembakaran, peledakan, terhadap fasillitas olahraga maupun fasilitas umum yang dilakukan oleh sekelompok orang di dalam atau di luar lingkungan stadion. Kerusuhan suporter diwarnai dengan adu mulut dari masing-masing kelompok pengrusakan stadion, pembakaran di sekitar lingkungan stadion, saling timpuk antar kelompok. Pengertian tadi menyatakan bahwa betapa parahnya keberadaan sepak bola di Indonesia. Dari kerusuhan suporter akan datng hal yang merugikan seperti jatuhnya korban nyawa akibat kericuhan.
Kerusuhan merupakan suatu peristiwa yang tidak terkendali berupa perkelahian massal, pengrusakan/penghancuran, pembakaran, peledakan, terhadap fasilitas umum yang dilakukan oleh sekelompok orang di dalam atau di luar lingkungan tertentu.
Kerusuhan Suporter merupakan peristiwa-peristiwa yang tidak terkendali berupa perkelahian massal, pengrusakan/penghancuran, pembakaran, peledakan, terhadap fasillitas olahraga maupun fasilitas umum yang dilakukan oleh sekelompok orang di dalam atau di luar lingkungan stadion. Kerusuhan suporter diwarnai dengan adu mulut dari masing-masing kelompok pengrusakan stadion, pembakaran di sekitar lingkungan stadion, saling timpuk antar kelompok. Pengertian tadi menyatakan bahwa betapa parahnya keberadaan sepak bola di Indonesia. Dari kerusuhan suporter akan datng hal yang merugikan seperti jatuhnya korban nyawa akibat kericuhan.
pembahasan (bab II)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Suporter
Di setiap bidang olahraga menghadirkan hal-hal menarik yang disukai masyarakat. Dari cabang sepakbola,bola basket, bola voli, bulu tangkis, dan cabang-cabang yang lainnya pasti digemaridan mendukung tim cabang olahraga tersebut,mereka inilah yang disebut suporter. Suporter dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang-orang yang memberi dukungan,sokongan dalam berbagai bentuk di situasi tertentu. Suporter biasanya memiliki cara-cara dalam mendukung tim kesukaannya, seperti bernyanyi-nyanyi menyuarakan dukungannya. Suporter dalam sutu pertandingan pun memiliki peran yang cukup penting. Suporter seakan membuat pemain menunjukan permainan yang terbaik. Maka dari itu tidak jarang tim yang didukung suporter mampu meraih kemenangan. Jadi suporter pun memiliki peran penting dalam cabang olahraga.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Suporter
Di setiap bidang olahraga menghadirkan hal-hal menarik yang disukai masyarakat. Dari cabang sepakbola,bola basket, bola voli, bulu tangkis, dan cabang-cabang yang lainnya pasti digemaridan mendukung tim cabang olahraga tersebut,mereka inilah yang disebut suporter. Suporter dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang-orang yang memberi dukungan,sokongan dalam berbagai bentuk di situasi tertentu. Suporter biasanya memiliki cara-cara dalam mendukung tim kesukaannya, seperti bernyanyi-nyanyi menyuarakan dukungannya. Suporter dalam sutu pertandingan pun memiliki peran yang cukup penting. Suporter seakan membuat pemain menunjukan permainan yang terbaik. Maka dari itu tidak jarang tim yang didukung suporter mampu meraih kemenangan. Jadi suporter pun memiliki peran penting dalam cabang olahraga.
Langganan:
Postingan (Atom)